Kamis, 01 Juni 2017

Single Parent yang Berprestasi Hingga Nasional

Menjadi "Single Parent" bukan alasan menjadi terpuruk. Maria (49) menjadikan status yang ia sandang, untuk menghasilkan karya dan prestasi. Sembari menyiapkan penerbitan buku yang ia buat pada minggu ini. Maria juga pernah menjadi juara 1 tingkat provinsi sebagai pembimbing karya ilmiah remaja Honda Best Student tahun 2005 sampk ke tingkat nasional.

"Seorang single parent itu memang berat, berat sekali. Apalagi saya juga harus berjuang untuk memotivasi kedua anak saya . itu bukan sesuatu yang mudah berperan sebagai ibu sekaligus sebagai ayah baik itu dari segi moril maupun materi," kata Maria Sutiani , ketika di wawancara Selasa (30/05).

Menjadi single parent pada tahun 1999 tepat di usianya 30 tahun dan bekerja sebagi guru bahasa indonesia di salah satu  sekolah menengah atas negeri di Padang, tidak menutup kemungkinan Maria untuk menghasilkan berjuta karya dan menuai prestasi. Masalah yang Ia hadapi justru membuat nya bersemangat dengan cara berkarya.

Sebagian orang banyak menjadikan titik berat di kehidupan mereka sebagai alasan untuk terpuruk dan berharap mendapatkan rasa iba dari orang lain. Single parent kerap kali menimbulkan ego di dalam diri orang yang meyandang nya dan lupa bahwa Ia memiliki tanggung jawab lain . Maria selalu mendidik dan menjadikan anak nya terlahir sebagai pribadi yang kuat dan tidak menyalahkan keadaan sebagai tameng mereka untuk tidak bangkit .

Tidak dipungkiri naluri perempuan yang kadang menuntut untuk memiliki pasangan sebagai tempat berbagi keluh kesah dan teman cerita bukan hambatan untuk Ia mundur dari mimpi yang Ia bangun selama ini .Tidak hanya itu, persaingan di dunia kerja yang tidak sehat juga merupakan salah satu kerikil dalam perjalanan hidup yang Ia dihadapi. "kemudian kompetisi didalam dunia pekerjaan yang tidak sehat diantara kita dengan teman yang kadang sering kali terjadi suatu istilahnya saling sudut menyudutkan diantara teman . saling menghalangi aktivitas meraih sebuah prestasi didunia kerja," ujar Maria.

Meraih Prestasi


Kondisi terburuk dalam kehidupan yang justru menjadi sumber motivasi agar lebih terpacu meraih prestasi yang membuat Ia menjadi pribadi yang beda dengan orang lain. Dalam pandangannya setiap masalah yang dihadapi merupakan wujud kecintaan Sang Pencipta.
Dengan menyibukan diri dan menjalani semua sebagai wujud syukur merupakan kunci dalam perjalanan menraih prestasi nya selama ini . Begitu banyak cacatan prestasi yang Ia raih dari awal perjalan karir Maria bahkan setelah ia menyandang status sebagai single parent.

"Kemudian pernah juga juara tiga menulis ulasan novel belenggu tingkat provinsi dan diundang juga ke tingat nasional, dan saat ini aktivitas saya di tahun 2015 saya sudah menghasilkan dan itu adalah prestasi saya dibidang bahasa sesuai dengan jurusan terakhir saya , sudah menghasilkan kumpulan puisi yang berjudul akulah karang . Juara 1 paduan sura antar dramawanita sebegai pemimpin nyanyi, dan juara satu solo song putri dramawanita 2016. Di tahun 2016 sebagai pelengkap nilai kinerja saya. Saya juga sudah menulis tiga buah artikel popule yang berjudul, guru baik hati, percaya diri mengajar bahasa, dan trik meminimalisir menyontek sesuai dengan jurusan terakhir saya pendidikan bahasa, semua artikel-artikel yang saya tulis itu sudah di publikasikan di perpustakaan," kata Maria.

Dibalik semua prestasi yang Ia raih ada sosok seorang dari masa lalu yang mendorong dengan sebuah kalimat sederhana namun memiliki banyak makna dan sumber semangat nya. "ada, sosok yang mungkin sangat sederhana sekali seorang dimasa lalu saya , teman dekat yang pernah menghadiahkan saya sebuah moto hingga saat ini saya pegang terus dikala saya sedang jatuh yaitu “ hidup ini berjalan kedepan, tidak tunduk meskipun terjatuh," tutup Maria .

MARIA SURTIANI 
Lahir :
Jakarta,23 April 1968
 Suami:
Yurman Mansyur (Alm)
Anak :
2 Orang
Pekerjaan :
Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Kota Solok
Penghargaan :
Juara 1 tingkat Provinsi sebagai pendamping karya ilmiah honda best student




Rabu, 03 Mei 2017

Broken Home :Tidak Tunduk Meski Terjatuh




Jakarta  - Di tengah riuhnya perpustakaan,terlihat sosok seorang gadis yang berasahaja namun dibalik kesederhanaannya tersebut terpancar aura yang menyiratkan gairah kehidupan yang penuh semangat menuju masa depan yang gemilang. Namanya  Helvira mahasiswi semester 4 di salah satu universitas swasta di Jakarta. Orangnya ramah dan friendly dan selalu menjadi sebuah figur yang bisa diteladani oleh teman-temannya.Dari kesantunannya yang  berbicara sangat terjaga sehingga menyiratkan bahwa dia adalah seorang mahasiswi berprestasi dan inovatif .

Dibalik ketegaran kepribadian gadis itu ternyata Helvira menyimpan beban hidup yang cukup berat untuk dijalani. Hidup dengan orang tua tunggal yang berperan ganda sebagai ibu dan ayah tidak membatasi ia dalam mencapai prestasi belajar karena ibunya adalah perempuan hebat yang selalu disiplin dalam membimbing anaknya untuk menjadi anak yang santun dan memiliki semangat untuk berprestasi .

“Ibu saya selalu mengajarkan untuk displin dan maksimal dalam memberi semangat belajar karena itu saya selalu termotivasi untuk meraih prestasi”.Ujar Helvira (20) Minggu (30/04/17)
Dampak dari bagaimana orang tua itu sendiri memandang betapa pentingnya pendidikan sangat mempengaruhi sudut pandang anak di masa depan, dorongan dan cara membimbing anak dengan baik merupakan langkah yang tepat agar anak tahu akan pentingnya pendidikan dan terpacu dalam meraih prestasi belajar. Sehingga akibat  rasa peduli terhadap pendidikan yang diterapkan sejak dini, anak akan terbiasa menomor satukan pendidikan dan menuai hasil yang maksimal.



Prestasi Belajar Remaja Broken Home
Menurut Karla seorang dosen jurusan psikolog di Universitas Bina Nusantara.Pandangan terhadap pendidikan jika remaja broken home akan menganggap pendidikan itu nomor sekian, karena mereka masih berkutat dengan masalah dan berpandangan orang tuanya berbeda dengan orang tua yang lain . Tetapi tergantung  bagaimana pandangan anak tersebut yang dipengaruhi oleh orang tua. Jika orang tua nya meganggap pendidikan itu tidak penting  mau yang broken home atau tidak jika orang tuanya tidak mementingkan pendidikan pasti ia tidak mennggap penting .

Namun seperti metode pembelajaran yang diterapkan oleh ibu Helvira ia sangat menganggap pendidikan adalah bagian terpenting dalam dirinya dan ia selalu unggul dan mendapat hasil yang memuaskan.

“Dari SD saya sudah mendapat peringkat pertama dikelas, dan terakhir semester 3 kemarin saya memperoleh IPK 3,85”. Lanjut Helvira

Peran Orang Tua bagi Remaja Broken Home 

Psikis remaja broken home sangat dipengaruhi  oleh dua orang sosok, ayah dan ibu atau pengganti ayah dan ibu . jadi peran ibu pasti sangat penting. Tapi disatu sisi ibu tersebut harus mencari satu sosok laki-laki atau mungkin itu kakek atau kerabat lain jika pada kondinya ibu si anak itu tidak menikah lagi. 

“Contohnya artis jessica iskandar mengganti sosok ayah untuk anaknya adalah kakak nya sendiri. Yang ideal seperti itu hatus ada pengganti nya. Kalau dia melihat ibunya terus menjadi sosok ayah dan ibu maka secara tidak langsung anak itu berfikir kalau dia perempuan maka ia akan seperti itu. Tetapi di lingkungan sosial nya anak itu tidak akan bisa melihat sosok lain perempuan.  Balik lagi peran ibu pasti sangat penting hanya saja tidak bisa ibu saja . untuk pendidikan peran ibu pasti sangat penting . anak itu menganggap pendidikan itu penting apa tidak tergantung bagaimana peran orang tua dalam pandangan anak tersebut tentang pendidikan” Tutup Karla .

Cara orang tua merangkul anak yang acuh terhadap pendidikan adalah pertama orang tuanya dulu harus berubah. Kedua harus sama-sama memiliki harapan yang sama. Agar dapat diskusi dan tidak cuman salah satu. Karena jika orang tuanya, tetapi jika orang tuanya sudah peduli  mungkin kita bisa melihat bagaimana harapan yang diberikan orang tua kepada anak. Mungkin terlalu tinggi dan anaknya tidak mampu mencapainya.